Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Pernikahan Tanpa Ikatan Cinta #3

Daftar Isi [Tampil]
 

Tia alzahira

#BAB 3

Ancaman Dari Bos

"Pak, seriusan deh, Pak Odi udah mecat aku," ujar Lea. 

Ranu menghentikan langkahnya dan menoleh ke Lea. “Aku itu yang punya perusahaan ini dan aku nggak mecat kamu, jadi cepet masuk dan kerja lagi," jelas Ranu panjang lebar. 

Lea mendengus heran. “Apa-apaan ini, Pak Odi, mecat aku tapi kenapa Pak Ranu malah nyuruh aku kerja.” Lea masih bingung, tapi ia pasrah mengikuti langkah Ranu yang cepat. 

Sampai di dalam kantor, beberapa karyawan lainnya menatap Lea dengan heran, Ranu tersadar kalau tangannya masih memegang tangan Lea, lalu menghempaskan tangan Lea dengan kasar. 

Begitupun Odi dan Ghina yang baru saja keluar dari ruangan Odi. Ranu menatap Odi dengan lekat sehingga membuat Odi menunduk ketakutan. 

“Aku nggak mau ada pemecatan karyawan tanpa seizin aku.” tegas Ranu yang disertai anggukan Pak Odi. 

"Tapi, Lea udah salah kirim barang, pak," ucap Pak Odi.

Ranu menatap Lea tajam. "Nanti aku cek kembali, kalau Lea terbukti salah, potong gajinya," tutur Ranu langsung bergerak menuju ruangannya. 

Sementara Lea masih berdiri dengan wajah membelalak tak percaya. "Tuh kan bener, kayaknya Pak Ranu emang mata duitan deh, dia sengaja nggak mecat aku pengen aku kerja rodi di sini, " gerutu Lea dalam hati. 

Pak Odi menghampiri Lea. “Kamu kembali ke meja kamu dan nggak jadi dipecat,” ucap Pak Odi. 

Seketika wajah Lea sumringah dan melaju dengan bangga kembali ke mejanya, sambil melirik Ghina yang pasang muka masam. Setidaknya Lea berpikir kalau Ranu pernah melakukan kebaikan padanya hari ini, walaupun nanti potong gaji, tapi itu urusan belakangan. “Apa perlu aku abadikan di museum. “Lea terkekeh dalam hati.

**

Ketika angkasa pelan-pelan menyemburatkan warna merah… 

Lea pun melega saat mendengar ringtone ponselnya berdering berulang kali, pertanda ponsel miliknya masih bisa digunakan, maklum saja tadi pagi sebelum berangkat ke kantor ponselnya terjatuh kecemplung dalam semangkok mie yang masih mengepul. 

Dengan cepat tangan kiri Lea merogoh ponsel yang ia letakan disakunya, sambil tangan kanannya masih ia fokuskan buat mengendarai sepeda motor. Kemudian Lea melirik ke ponsel dan menekan icon telepon warna hijau dan menempelkan di telinga sambil ia jepit dengan pundaknya.

“Iya, bisa, bisa. Sekarang? Aku langsung kesitu ya.” Saat mau mematikan Ponselnya, Lea kaget dihadapannya ada mobil yang lagi parkir, Lea panik . 

CIIIIITTTT!! Seketika Lea menekan rem dengan kuat, namun scoopy putih yang ia kendarai tampak oleng, jarak dengan mobil yang ada dihadapannya terlalu mepet. BRAAAK! Lea terjatuh dari motornya sehabis menabrak mobil berwarna putih.  

“Fhuhh…” Lea  merintih kesakitan. Jalanan yang biasanya ramai di sore hari, kali ini terlihat sepi. Lea mengulurkan tangan dengan masih menunduk berharap orang yang yang berdiri di hadapannya itu menolong dirinya. 

Tapi sayangnya khayalan tak seindah kenyataan. Orang tersebut tak bergeming. Lea mendongakan wajah seketika tercengang melihat lelaki yang mengenakan kemeja flannel kotak-kotak dihadapannya itu Ranu. 

Ranu memasang wajah menyeramkan, seolah-olah ingin menerkam Lea hidup-hidup. 

“Kalau nggak bisa ngendarain motor, mending jalan kaki aja, lebih aman dan nggak celakain orang lain!” ucap Ranu yang wajahnya terpapar cahaya sore, menyilaukan! Lea mendelik kesal dan menarik lagi tangan yang sempat ia ulurkan. “Aduh, Pak bukannya nolong malah marah-marah, nggak liat apa kaki ama tangan aku lecet,” gerutu Lea dengan kesal. 

“Cepet ganti rugi, tuh liat mobil aku rusak!” kata Ranu  tak mau kalah. 

Mendengar itu Lea menggeleng. “Nggak mau! Aku juga lecet, terus siapa yang mau ganti rugi ke aku?”

Ranu kemudian mengambil ponsel dari sakunya. “Kalau kamu nggak mau ganti rugi, gimana kalau kasus ini aku bawa ke polisi!” 

DEG! Lea tampak panik, Ranu benar-benar menyeramkan bagi hidup Lea. Terakhir berurusan dengan polisi saat Lea menerobos lampu merah karena nggak liat lampu yang awalnya kuning berubah jadi merah, mau mundur juga nggak bisa gara-gara buru-buru pas mau berangkat kerja dan Lea yakin nanti prosesnya itu panjang, lebih panjang dari jalur kereta api Bekasi ke Semarang. 

Selain itu nyaris bikin Emak jantungan, dipikir Lea melakukan kejahatan atau menjual obat-obatan terlarang, sampai Emaknya nyuruh warga sekampung buat demo ke kantor polisi belain anaknya yang nggak mungkin melakukan perbuatan sehina itu. 

Mengingat itu Lea buru-buru menggelengkan kepala. “Nggak, Pak Ranu, nggak boleh laporin aku ke polisi, bisa-bisa Emak panik,” bisik Lea dalam hati, kemudian ia terdiam seolah berfikir. 

“Gimana kalau kita anggap impas aja, aku juga kan luka, nih liat,” ucap Lea sambil menunjukan lengan dan kakinya yang lecet sambil memasang muka ngarep, tapi Ranu malah mendelik kesal. 

“Mimpi! Luka Kamu nggak sebanding sama harga mobil aku yang mahal!” ucap Ranu. 

Lea cemberut melirik mobil yang ada di hadapannya yang memang lecet parah. “Ihh, nyebelin banget, masa lecet tangan sama kaki aku dibandingin sama lecet tuh mobil!” bisik Lea dalam hati. 

Tak lama terdengar ponsel Lea yang berdering, Lea celingukan dan menemukan ponselnya tergeletak tak berdaya di atas aspal, Lea meraihnya.

“Semoga nih hp baik-baik aja.” 

Lea buka ponselnya terlihat ada pesan whatsap dari Bara. Sebelum membuka whatsap, Lea mengelap layar ponselnya yang berbaret.  

“Kamu udah dimana? Aku udah sampai nih.” 

Pesan dari Bara itu membuat Lea berfikir, ia tak mau kalau Bara menunggu dirinya terlalu lama, terlebih Bara itu orang sibuk, bisa meluangkan waktu untuk Lea aja sudah membuat Lea bahagia setengah mati dan melupakan luka yang baru saja dia dapatkan. 

Perlahan Lea mendirikan sepeda motor ke posisi semula, pelan-pelan melipir lalu ia menstarter motor dan kabur. Ranu yang lagi melihat mobilnya yang lecet pun tersadar dan mengejar Lea.

“Lea, berhenti!” teriak Ranu.

Dari spion Lea melihat Ranu berusaha mengejar Lea. Lea menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah, setelah itu melambaikan tangan penuh kemenangan. Lea memang ahli dalam melarikan diri ketika ada masalah. 

Setelah tahu dirinya semakin menjauh, Lea pun bersorak senang. “Huwaaaa….” 

Lalu Lea pun berfikir mungkin nanti Bosnya itu akan bikin perhitungan di kantor, Lea mendesah kesal, duh kenapa tadi aku nggak ngalah aja, minta maaf. 

Sementara itu, Ranu memandangi Lea dari kejauhan memaki kesal. “Liat aja nanti, aku akan bikin hidup kamu makin menderita."

Bersambung . . .

Post a Comment for "Pernikahan Tanpa Ikatan Cinta #3"